SSorot Singaraja
Sejarah dan Budaya Singaraja

Menggali Jejak Kolonial Belanda di Singaraja: Dari Gedong Kertya hingga Pelabuhan Buleleng

Singaraja menyimpan jejak kolonial Belanda yang masih terasa hingga kini. Dari arsip kuno di Gedong Kertya hingga Pelabuhan Buleleng, inilah kisah sejarah yang masih hidup di tahun 2025–2026.

Menggali Jejak Kolonial Belanda di Singaraja: Dari Gedong Kertya hingga Pelabuhan Buleleng

Inti Sari

  • Gedong Kertya, perpustakaan lontar tertua di Bali, menyimpan arsip kolonial Belanda sejak abad ke-19.
  • Pelabuhan Buleleng adalah salah satu pelabuhan tertua di Bali, dibangun oleh Belanda pada masa kolonial.
  • Singaraja pernah menjadi ibu kota Bali selama masa pemerintahan Belanda hingga tahun 1958.
  • Beberapa bangunan kolonial masih berdiri kokoh di pusat kota Singaraja hingga 2026.
  • Wisata sejarah Singaraja semakin diminati, dengan kunjungan ke Gedong Kertya meningkat 20% pada 2025.

Gedong Kertya: Arsip Kolonial yang Masih Hidup

Gedong Kertya, yang terletak di Jalan Veteran, Singaraja, adalah perpustakaan lontar tertua di Bali. Didirikan pada tahun 1928 oleh Belanda, tempat ini menyimpan ribuan lontar dan dokumen sejarah, termasuk arsip kolonial. Pada tahun 2025, Gedong Kertya telah menjalani renovasi untuk memperbaiki fasilitas penyimpanan, namun tetap menjaga keaslian arsitekturnya yang bergaya kolonial. Pengunjung dapat melihat langsung manuskrip kuno dan dokumen Belanda yang menceritakan sejarah Singaraja.

Pelabuhan Buleleng: Pintu Gerbang Kolonial

Pelabuhan Buleleng, yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Buleleng Agung, adalah salah satu saksi bisu kejayaan kolonial Belanda di Singaraja. Dibangun pada abad ke-19, pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan Belanda di Bali Utara. Pada tahun 2025, pelabuhan ini masih aktif melayani kapal-kapal kecil, meskipun fungsi utamanya telah beralih ke pariwisata. Wisatawan sering berkunjung untuk menikmati suasana pantai sambil mempelajari sejarahnya melalui papan informasi yang tersedia.

Bangunan Kolonial yang Masih Berdiri

Beberapa bangunan kolonial Belanda masih dapat ditemui di pusat kota Singaraja. Salah satunya adalah Gedung Kantor Pos Singaraja yang terletak di Jalan Gajah Mada. Bangunan ini tetap mempertahankan arsitekturnya sejak masa kolonial dan masih beroperasi hingga 2026. Selain itu, Kantor Bupati Buleleng juga memiliki ciri khas gaya arsitektur Belanda. Bangunan-bangunan ini menjadi destinasi populer bagi penggemar sejarah dan fotografi.

Sering Ditanyakan

Apa saja yang bisa dilihat di Gedong Kertya?

Pengunjung dapat melihat koleksi lontar kuno, manuskrip, dan arsip kolonial Belanda serta menikmati arsitektur bangunan bergaya kolonial.

Apakah Pelabuhan Buleleng masih aktif?

Ya, Pelabuhan Buleleng masih aktif melayani kapal-kapal kecil, tetapi lebih difokuskan sebagai destinasi wisata sejarah.

Bagaimana kondisi bangunan kolonial di Singaraja?

Bangunan kolonial seperti Gedung Kantor Pos dan Kantor Bupati Buleleng masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik hingga 2026.

Apakah ada tiket masuk ke Gedong Kertya?

Tiket masuk ke Gedong Kertya relatif terjangkau, sekitar Rp10.000–Rp20.000 per orang, tergantung kategori pengunjung.